Misteri Granat Tidur di Samarinda Ditemukan di Lokasi yang Sama

redaksi

Penemuan granat oleh tim Babinsa dan TNI di wilayah Palaran. (Istimewa)
Penemuan granat oleh tim Babinsa dan TNI di wilayah Palaran. (Istimewa)

Samarinda – Kehebohan kembali melanda Kota Samarinda dengan penemuan granat pada Kamis (1/2/2024) di area perkebunan warga di Jalan Al Hasani, RT 05, Kelurahan Bantuas, Kecamatan Palaran.

Penemuan ini, seperti yang diungkapkan Ketua RT 05, Mustamat, rupanya bukan kali pertama. Rupanya, sudah pernah ditemukan granat juga di wilayah tersebut.

Diceritakannya, bahwa puluhan tahun lalu, tepatnya pada tahun 1993, granat sejenis pernah ditemukan di wilayah RT 05. Saat itu, granat yang ditemukan masih dalam kondisi mulus, namun sudah tidak aktif lagi.

Baca Juga  Pemkot Samarinda Berencana Pasang LPJU di Jalan Alternatif Sambutan-Sungai Pinang

Menariknya, lokasi penemuan granat kali ini sama dengan kejadian masa lalu.

“Lokasi ditemukannya sama. Di kebun warga juga. Cuma waktu itu tidak ditangani Gegana karena sudah tidak aktif,” ucapnya, dilansir dari media Tribunkaltim.com.

Selain perkebunan kata dia, wilayah RT 05 sebagian besar masih merupakan hutan, yang dulunya menjadi tempat persembunyian prajurit Jepang setelah perang.

Baca Juga  Klaim Berhasil Raih Kursi Terakhir Senayan, PAN Kaltim akan Kawal hingga Tuntas

“Mungkin karena itu ada beberapa granat ditemukan. Bagian belakang kebun warga juga masih banyak hutan tak tersentuh. Mungkin di situ juga masih ada granat,” terangnya.

Menanggapi penemuan ini, Babinsa Bantuas, Serka M. Hafid, menuturkan bahwa wilayah Bantuas, yang merupakan kelurahan di Kecamatan Palaran dengan area terluas, masih didominasi oleh hutan yang sebagian besar jarang tersentuh warga.

Lebih mengejutkan lagi, di sana terdapat terowongan tanah yang rupanya tidak pernah terungkap tujuannya dan terhubung ke mana saja.

Baca Juga  Keluarga Korban Merasa Tak Adil, 5 Nyawa Melayang, Namun Junaedi hanya Dituntut 10 Tahun Penjara saja

“Pernah ada yang ke sana (terowongan) tapi orangnya tidak pernah kembali. Makanya tidak ada lagi yang berani ke sana. Tidak tahu apa yang ada di sana,” singkat Serka M. Hafid.

Warga di lokasi tersebut pun diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan di area perkebunan dan hutan, serta berhati-hati terhadap potensi bahaya yang mungkin tersembunyi.

Bagikan

Berita Terkait

Tinggalkan komentar