Teraskaltim.net | Kukar – Ketimpangan akses menuju lokasi wisata desa masih menjadi persoalan serius di beberapa wilayah Kutai Kartanegara (Kukar).
Salah satunya di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, yang memiliki potensi besar lewat keberadaan air terjun kembar, namun belum didukung infrastruktur jalan yang layak.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Kukar, Arianto, menilai pengembangan wisata desa harus dimulai dari inisiatif pemerintah desa, khususnya dalam membuka akses dasar menggunakan anggaran dana desa.
“Kalau memang potensial, maka harus dimulai dari pemerintah desanya sendiri. Dana desa bisa digunakan untuk itu,” kata Arianto, Rabu (28/5/2025).
Ia menegaskan, pemerintah kabupaten tidak bisa langsung menggelontorkan anggaran besar untuk pembangunan destinasi wisata tanpa kajian. Potensi kunjungan dan status kepemilikan lahan harus dikaji terlebih dahulu agar pembangunan tidak salah sasaran.
“Kalau langsung dikelola, sementara yang berkunjung belum ada, lalu kita investasi miliaran, itu kan kurang tepat. Kita lihat dulu potensinya seperti apa,” jelasnya.
Menurut Arianto, pembangunan infrastruktur pariwisata harus berbasis kebutuhan dan perencanaan bertahap. Pemerintah desa diminta aktif mengurus status lahan dan membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) agar lokasi bisa dikelola dengan baik.
“Kalau itu aset milik warga, tentu pendekatannya berbeda. Tapi kalau milik desa dan dikelola oleh Pokdarwis, kami dari Dinas Pariwisata siap mendukung,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Arianto juga menyerahkan secara simbolis Surat Keputusan (SK) pengangkatan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) kepada puluhan pegawai di lingkungan Dinas Pariwisata Kukar.
Ia berharap para P3K yang baru diangkat bisa menunjukkan dedikasi dalam bekerja dan memberi manfaat nyata bagi pelayanan publik, termasuk dalam mendukung sektor wisata desa.
“Harapannya, kerjanya semakin bagus, semakin melayani, sehingga masyarakat bisa merasakan manfaat kehadiran mereka,” kata Arianto.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa keberhasilan pariwisata desa tidak bisa hanya bergantung pada kabupaten, tetapi butuh gerakan dari desa.
“Kalau dari desa sudah mulai bergerak, baru kami bisa ikut bantu memperkuatnya,” pungkasnya. (Adv)



